Kamis, 17 Desember 2009

PULAU KOMODO


Sejarah Singkat Pulau Komodo

Awal sejarah dari Pulau Komodo adalah dengan adanya kisah tentang seekor naga. Bukan sekadar legenda, tetapi benar-benar seekor naga yang hingga kini masih mendiami Kepulauan Indonesia bagian timur dan tengah. Raksasa dari dunia reptil ini punya reputasi sebagai predator puncak di kelasnya. Sejak dulu di Pulau Komodo, jajaran Kepulauan Flores, Indonesia, telah muncul kisah tentang naga raksasa. Banyak pelaut yang berkisah bahwa naga ini lebih mirip monster yang menakutkan.Ekornya yang besar bisa merubuhkan seekor kerbau hanya dengan satu kibasan. Rahangnya besar dan kuat, hingga mampu menelan seekor babi hutan dalam satu gerakan. Dan dari mulutnya senantiasa menyemburkan api.

Kisah ini beredar luas dan sempat menarik perhatian banyak orang. Namun tak pernah ada yang berani mendekati pulau tersebut untuk membuktikannya. Sampai akhirnya pada 1910-an awal, muncul laporan dari gugus satuan tempur armada kapal Belanda yang bermarkas di Flores tentang makhluk misterius yang diduga “naga” mendiami sebuah pulau kecil di wilayah Kepulauan Sunda Lesser (sekarang jajaran Kepulauan Flores, Nusa Tenggara).

Para pelaut militer Belanda tersebut memberi laporan bahwa makhluk tersebut kemungkinan berukuran sampai tujuh meter panjangnya, dengan tubuh raksasa dan mulut yang senantiasa menyemburkan api. Letnan Steyn van Hensbroek, seorang pejabat Administrasi Kolonial Belanda di kawasan Flores mendengar laporan ini dan kisah-kisah yang melingkupi Pulau Komodo. Ia pun merencanakan perjalanan ke Pulau Komodo. Setelah mempersenjatai diri dan membawa satu regu tentara terlatih, ia mendarat di pulau tersebut. Setelah beberapa hari di pulau itu, Hensbroek berhasil membunuh satu spesies aneh itu. Ia membawanya ke markas dan dilakukan pengukuran panjang hasil buruannya itu dengan panjang kira-kira 2,1 meter. Bentuknya sangat mirip kadal. Satwa itu kemudian dipotret (didokumentasikan) oleh Peter A Ouwens, Direktur Zoological Museum and Botanical Gardens Bogor, Jawa. Inilah dokumentasi pertama tentang komodo. Ouwens tertarik dengan temuan satwa aneh tersebut. Ia kemudian merekrut seorang pemburu lihai untuk menangkap spesimen untuknya. Sang pemburu berhasil membunuh dua ekor komodo yang berukuran 3,1 meter dan 3,35 meter, plus menangkap dua anakan, masing-masing berukuran di bawah satu meter. Berdasarkan tangkapan sang pemburu ini, Ouwens melakukan penelitian dan menyimpulkan bahwa komodo bukanlah naga penyembur api, melainkan termasuk jenis kadal monitor (monitor lizard) di kelas reptilia.

Hasil penelitiannya ini kemudian dipublikasikan pada koran terbitan tahun 1912. Dalam pemberitaan itu, Ouwens memberi saran nama pada kadal raksasa itu Varanus komodoensis sebagai pengganti julukan Komodo Dragon (Naga Komodo). Sadar arti penting komodo sebagai satwa langka, Pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan proteksi terhadap komodo dan Pulau Komodo pada 1915. Jadilah kawasan itu sebagai wilayah konservasi komodo.

Temuan komodo sebagai legenda naga yang hidup, memancing rasa ingin tahu dunia internasional. Beberapa ekspedisi ilmiah dari berbagai negara secara bergilir melakukan penelitian di Pulau Komodo.


LETAK GEOGRAFIS

Letak Geografis Pulau Komodo adalah 119o09’00” – 119o55’00” BT dan 8o20’00” – 8o53’00” LS. Sebagai penghargaan atas keunikan dan kelangkaan satwa purba ini, Pemerintah Indonesia melalui Menteri Pertanian memberi perlindungan bagi kelangsungan hidup satwa istimewa ini dengan membentuk habitat lingkungan suaka margasatwa komodo yang terdiri dari Pulau Komodo, Pulau Padar dan Pulau Rinca sebagai Taman Nasional Komodo (TN Komodo) pada tahun 1980. Bahkan UNESCO pun turut menetapkan TN Komodo sebagai warisan Dunia (World Heritage Site).

Letak TN Komodo berada diujung barat Propinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya diantara Pulau Sumbawa dan Pulau Flores. Secara administratif kawasan TN Komodo berada di wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Propinsi NTT.


Gambar Pulau Komodo

Taman Nasional Komodo

Taman Nasional Komodo terdiri dari tiga buah pulau besar yaitu pulau Komodo, pulau Rinca dan pulau Padar serta 26 buah pulau besar/kecil lainnya. Sebanyak 11 buah gunung/bukit yang ada di Taman Nasional Komodo dengan puncak tertinggi yaitu Gunung Satalibo (± 735 meter dpl).



Keadaan alam yang kering dan gersang menjadikan suatu keunikan tersendiri. Adanya padang savana yang luas, sumber air yang terbatas dan suhu yang cukup panas; ternyata merupakan habitat yang disenangi oleh sejenis binatang purba Komodo (Varanus komodoensis).

Sebagian besar taman nasional ini merupakan savana dengan pohon lontar (Borassus flabellifer) yang paling dominan dan khas. Beberapa tumbuhan yang ada di Taman Nasional Komodo antara lain rotan (Calamus sp.), bambu (Bambusa sp.), asam (Tamarindus indica), kepuh (Sterculia foetida), bidara (Ziziphus jujuba), dan bakau (Rhizophora sp.) Selain satwa khas Komodo, terdapat rusa (Cervus timorensis floresiensis), babi hutan (Sus Scrofa), ajag (Cuon alpanus javanicus), kuda liar (Equus qaballus), kerbau liar (Bubalus bubalis); 2 jenis penyu, 10 jenis lumba-lumba, 6 jenis paus dan duyung yang sering terlihat di perairan laut Taman Nasional Komodo.

Potensi kehidupan laut di taman nasional ini tercatat sebanyak 259 jenis karang dan 1.000 jenis ikan seperti barakuda, marlin, ekor kuning, kakap merah, baronang, dan lain-lain. Taman Nasional Komodo merupakan asset nasional yang mendapat dukungan bantuan teknis untuk pengelolaannya secara internasional, dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia dan Cagar Biosfir oleh Unesco.


Gambar Savana

Wisatawan paling banyak mengunjungi Taman Nasional Komodo adalah wisatawan mancanegara, dimana mereka menyebut taman nasional ini dengan julukan “dunia tersendiri”. Sejauh mata memandang terlihat lapangan terbuka dengan beberapa pohon lontar yang tegak menjulang ke langit dilatarbelakangi rangkaian pegunungan, kesan gersang dan tandus pada padang savana tetapi riuh oleh beberapa suara burung dan kuda liar, reptil raksasa. Berenang dan mandi di bawah teriknya matahari dan birunya air laut Flores; merupakan dunia tersendiri dan pengalaman yang tidak terlupakan oleh para wisatawan.


Gambar Komodo

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi: Loh Liang. Pintu masuk utama untuk kegiatan pengamatan satwa liar pada hutan musim yang dibatasi oleh pantai pasir putih dan wisata budaya. Pulau Lasa, Pantai Merah, Loh Bo dan Sebita. Menyelam dan snorkeling dengan fasilitas dive shop dan glass bottomboat.
Banu Nggulung. Pengamatan satwa.



Musim kunjungan terbaik: bulan Maret s/d Juni dan Oktober s/d Desember setiap tahunnya.
Cara pencapaian lokasi:Denpasar-Mataram-Bima-Sape (perjalanan darat dan fery) selama dua hari. Dari Sape menuju lokasi taman nasional menggunakan fery. Denpasar-Labuan Bajo dengan pesawat seminggu dua kali, dan menggunakan fery atau speedboat dari Labuan Bajo ke lokasi taman nasional.

Hewan Prasejarah yang Bertahan di Pulau Komodo

Usai Perang Dunia I, sebuah ekspedisi ilmiah dirancang untuk melakukan penelitian komodo. Pada 1926, ekspedisi yang dipimpin W Douglas Burden dari American Museum of Natural History dengan perangkat penelitian termodern, melakukan penelitian selama berbulan-bulan. Ekspedisi yang melibatkan puluhan orang itu menangkap 27 ekor komodo. Mereka melakukan bedah anatomi dan identifikasi spesies. Dari sinilah laporan ilmiah pertama yang lengkap tentang komodo dibuat.

Dideskripsikan bahwa komodo memiliki kepala yang besar dan kuat, memiliki sepasang mata yang bersinar, kulitnya keras, tebal dan liat. Memiliki kelambir kulit berkerut di bawah lehernya. Bentuknya mirip dengan biawak, dengan empat kaki yang gemuk besar dan ekor yang juga gemuk besar panjang. Memiliki 26 gigi yang tajam, masing-masing berukuran 4 cm, memiliki lidah bercabang yang berwarna merah cerah. Jika dilihat dari kejauhan, lidah yang dijulurkan akan mirip api, karena komodo sering menjulurkan lidahnya seperti ular. Komodo juga pemburu handal. Ia mengandalkan gigitan dan racun bakteri pada ludahnya untuk melumpuhkan mangsa. Ia akan mengikuti mangsanya yang sudah terluka selama berhari-hari, sampai akhirnya mati, barulah ia menyantapnya.

Sebagai karnivora dan scavenger (pemakan bangkai), komodo memang hanya ditemui di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, Gili Motang, Owadi dan Samiin. Komodo juga diketahui sebagai hewan yang jago berenang. Dengan cara itulah ia melakukan penjelajahan di pulau-pulau sekitar Flores.

Penghuni Pulau Komodo

Komodo adalah hewan asli Kepulauan Flores, Nusa Tenggara. Pulau yang paling banyak ditempati komodo ini diberi nama sesuai dengan nama hewan ini saat ditemukan pada 1910, yakni Pulau Komodo (Komodo Island).

Kadal-kadal raksasa ini termasuk hewan yang nyaris punah dengan jumlah populasi di alam liar kurang dari 4.000 ekor. Untuk melindungi komodo, pada 1980 disepakati untuk membentuk kawasan konservasi dalam bentuk Taman Nasional Komodo di Pulau Komodo dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Sebaran dan populasi komodo dalam tiga dasawarsa terakhir ini semakin menurun dan keberadaannya semakin terancam, terutama akibat kegiatan perburuan rusa, sebagai mangsa utamanya. Bahkan populasi di Pulau Padar diketahui telah hilang sejak akhir 1990-an, padahal pada awal tahun 1980-an, komodo masih dapat dijumpai di sana. Perhatian dan upaya konservasi spesies ini perlu diberikan secara khusus, karena populasi komodo diambang kepunahan. Bagi sebagian penduduk di Pulau Komodo, hewan ini dianggap lebih berbahaya terhadap manusia daripada buaya, karena kandungan bakteri pada air liurnya yang dapat menyebabkan infeksi berat.

Biasanya, musim kawin komodo terjadi antara Juni-Juli. Pada Agustus, komodo betina akan menggali sarang berupa gundukan bekas sarang burung Gosong (Megapodius reindwardt) di bukit dan sarang lubang di tanah, untuk menyimpan telurnya yang dapat mencapai 38 butir. Telur komodo biasanya dijaga oleh induknya, namun anak yang baru lahir pada bulan Februari atau Maret tidak dijaga, malah sering dimakan. Komodo membutuhkan lima tahun untuk tumbuh sampai ukuran dua meter dan dapat terus hidup sampai 30 tahun. Memasuki 4-5 tahun adalah masa awal kematangan komodo secara seksual.

Masyarakat Suku Modo di Pulau Komodo

Pulau Komodo yang terletak di antara Pulau Sumbawa dan Flores, Nusatenggara Timur, tak hanya dikenal dunia karena dihuni reptil purba komodo. Ternyata, sekelompok manusia yang menamakan dirinya Suku Modo juga mendiami pulau tersebut. Bahkan, sejak dahulu kala, mereka terbiasa hidup berdampingan dengan biawak raksasa tersebut. Kendati demikian, saat ini, sejumlah permasalahan mengganjal keseharian masyarakat Suku Modo. Betapa tidak, sejak tahun 1980, pemerintah menetapkan tanah warisan leluhur mereka sebagai kawasan Taman Nasional Komodo (TNK).

Namun, keberadaan TNK tampaknya tak menggentarkan warga Suku Modo. Mereka tetap berkeinginan mendiami tanah kelahirannya, walaupun pemerintah setempat sudah menyerukan untuk memindahkan ke tempat lain. Tak hanya itu, orang Modo --begitu mereka disebut-- mengalami perubahan mata pencaharian hidup, dari masyarakat petani menjadi nelayan lantaran kondisi alam yang kering. Bahkan, sebagian dari mereka menjalani profesi sebagai perajin yang tentunya seiring dengan perubahan Pulau Komodo menjadi kawasan wisata.

Bila mengunjungi kawasan tersebut, biasanya para turis asing maupun lokal terlebih dahulu menuju Bandar Udara Labuanbajo, wilayah barat Flores, NTT. Setelah itu, para turis menaiki angkutan umum menuju Pelabuhan Labuanbajo yang menjadi pintu gerbang ke Pulau Komodo. Selanjutnya, dengan menggunakan speedboad perjalanan laut itu menghabiskan waktu sekitar dua jam. Begitu sampai di Pulau Komodo, pemandangan alam nan indah seolah menyambut kedatangan para pengunjung.

Di tempat inilah --sekitar seabad lampau-- seorang ahli biologi berkebangsaan Belanda terdampar lantaran kerusakan mesin pada kapal yang hendak mengangkutnya menuju benua Australia. Ia adalah Owens, orang asing pertama penemu reptil raksasa yang dianggapnya sebagai "cucu naga." Bayangkan saja, panjang tubuh satwa langka dewasa tersebut dapat mencapai tiga meter. Kadal raksasa inilah yang kemudian bernama komodo atau sebutan latinnya varanus komodoensis. Sayangnya, saat ini, binatang langka dan buas itu diperkirakan tinggal berjumlah 2.600 ekor.

Tentu saja, kondisi tersebut cukup memprihatinkan. Padahal, reptil besar itu di dunia hanya hidup di Pulau Komodo yang luasnya mencakup 332,4 kilometer persegi. Sedangkan wilayah seluas 173.300 hektare ditetapkan sebagai kawasan TNK. Hal itu untuk melestarikan satwa langka tersebut. Karena itu, tak heran bila seluruh penjuru dunia pun memusatkan perhatiannya di tempat tersebut. Kendati demikian, pada tahun 1974, seorang turis berkebangsaan Swiss diketahui sebagai orang pertama yang dimangsa komodo. Bahkan, sejumlah makam yang terletak di pesisir seakan memperingatkan kepada pengunjung akan keganasan binatang melata raksasa tersebut.

Menurut sebuah penelitian, komodo adalah binatang pemangsa daging atau karnivora. Hewan jenis karnivora itu biasanya memangsa kambing dan rusa. Namun, tak jarang biawak raksasa itu memakan bangkai jenisnya sendiri. Sekalipun tidak berbisa, satwa langka tersebut sangat beracun. Betapa tidak, hewan lain atau orang yang tergigit dapat mati karena racun pada gigi komodo. Kebuasan komodo juga dipengaruhi habitatnya yang merupakan daratan kering. Dengan kata lain, hanya binatang yang mampu beradaptasi di tempat keras inilah yang dapat bertahan hidup.

Serupa dengan hewan komodo, orang Modo pun terkenal akan daya juang hidupnya yang besar. Suku Modo yang kini lebih dikenal sebagai orang Komodo --sebutan orang luar terhadap mereka-- justru sudah mengantisipasi keberadaan kadal raksasa tersebut. Sebab, bukan tak mungkin binatang melata itu bakal menyerang mereka. Itulah sebabnya, mereka membangun rumah panggung di pinggir pantai. Hal itu bukan saja menghindarkan diri dari serangan komodo, tapi juga babi hutan.
Pada awal 1930, populasi Suku Modo tercatat hanya sekitar 140-an jiwa. Namun, hingga saat ini, sudah berkembang menjadi 1.140 jiwa. Umumnya, mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Modo. Bahasa asli itu bisa dikatakan menyerupai bahasa Manggarai. Sementara mata pencaharian awalnya adalah berkebun dan berladang dengan pembagian tanah ladang secara adat. Namun, kondisi alam yang kering menyebabkan sebagian dari mereka beralih mata pencarian sebagai nelayan atau mengumpulkan ikan-ikan kecil.

Sementara sebagian orang Modo lainnya berprofesi sebagai perajin, menyusul kebijakan pemerintah daerah NTT yang membuka kawasan itu sebagai satu di antara tujuan wisata. Haji Nuhun, misalnya. Ia dapat disebut sebagai pelopor bisnis kerajinan patung di Pulau Komodo. Selama bertahun-tahun, ia menekuni dunia patung mematung dengan menciptakan bentuk dan gaya komodo dalam berbagai ukuran. Harga yang ditawarkan berkisar Rp 35.000 hingga Rp 2 juta per patungnya. Begitulah sekelumit kehidupan masyarakat Modo yang menjalani hidupnya di TNK --tempat satwa liar sisa hewan purba komodo dilestarikan.



sumber :

1.  Internet
2.  Majalah & koran

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar